Sunday, August 14, 2016

DOKTER SANDRA YANG MASIH PERAWAN


San… hei saya jaga nich tengah malam ini, elu jangan sampai kirim pasien yg aneh-aneh ya, saya ingin bobo, demikian pesanku waktu terdengar telephone di ujung sana diangkat. 
“Udah makan belum?” nada merdu di seberang sana menyahut. 
“Cie… illeee, perhatian nich”, saya meneruskan &, “Bodo ach”, dulu terdengar tuutt… tuuuttt… tuuut, rupanya telpon di sana telah ditutup. 

Tengah Malam ini saya bakal giliran jaga di bangsal bedah sedangkan di UGD alias Satuan Gawat Darurat ada dr. Sandra yg jaga. Nah, UGD bila telah tengah malam begini menjadi pintu gerbang, menjadi semua pasien bakal masuk via UGD, kelak baru dibagi-bagi atau diputuskan oleh dokter jaga bakal dikirim ke sektor mana para pasien yg butuh dirawat itu. Syukur-syukur sih sanggup ditangani serta-merta di UGD, menjadi tak butuh merepotkan dokter bangsal. dr. Sandra sendiri mesti saya akui beliau pass terampil & pandai pula, tetap teramat belia kurang lebih 28 thn, kece menurutku, tak terlampaui tinggi lebih kurang 165 senti meter bersama bodi sedang ideal, kulitnya putih dgn rambut sebahu. Sifatnya pass pendiam, bila berkata santai seakan memberikan kesan sabar namun yg tidak jarang sohib sejawat jumpai adalah ketus & judes lebih-lebih jika lagi moodnya tidak baik sekali. Celakanya yg tidak jarang ditunjukkan, ya seperti itu. Gara-gara itu mungkin, hingga kini dirinya tetap single. Hanya dengar-dengar saja belakangan ini dirinya lagi punyai pertalian husus bersama dr. Anton tetapi saya serta tak tentu. 


Kira-kira jam 2 pagi, kamar jaga saya diketuk dgn pass keras pun. 
“Siapa?” tanyaku tetap agak enggan utk bangun, sepet benar nih mata. 
“Dok, ditunggu di UGD ada pasien konsul”, nada dibalik pintu itu menyahut, oh suster Lena rupanya. 
“Ya”, sahutku sejurus selanjutnya. 

Sampe di UGD kulihat ada sekian banyak laki laki di dalam lokasi UGD & sayup-sayup terdengar nada rintihan halus dari ranjang memeriksa di ujung sana, pernah kulihat sepintas seseorang laki laki tergeletak di sana namun belum pernah kulihat lebih terang disaat dr. Sandra menyongsongku, “Fran, pasien ini jari telunjuk kanannya masuk ke mesin, parah, baru setengah jam sih, tensi oke, menurutku sih amputasi (dipotong, gitu maksudnya), macam mana menurut elu?” begitu resume singkat yg diberikan olehnya. 

“San, elu semakin kece aja”, pujiku sebelum memperoleh status pasien yg diberikannya padaku & disaat saya terjadi menuju ke ruangan pasien itu, suatu cubitan keras mampir di pinggangku, sambil dr. Sandra mengiringi langkahku maka tak terlampaui saksikan apa yg beliau laksanakan. Sakit pun nih. 

Diwaktu kulihat, pasien itu memang lah parah sekali, boleh dibilang nyaris putus & yg tertinggal hanya sedikit daging & kulit saja. 
“Dok, tolong dok… jangan sampai dipotong”, pintanya kepadaku memelas. 
Hasilnya saya panggil itu si Om gendut, bosnya kemungkinan & seseorang sohib kerjanya utk mendekat & saya memberi pengertian ke mereka seluruh. 
“Siapa nama Bpk?” demikian saya mengawali percakapan sambil melirik ke status utk tentukan bahwa status yg kupegang memang lah punyai pasien ini. 
“Praptono”, sahutnya lemah. 

“Begini Pak Prap, aku mengerti kondisi Bpk & aku dapat berikhtiar buat mempertahankan jari Bpk, tetapi perihal ini tak kemungkinan dilakukan lantaran yg tersisa cuma sedikit daging & kulit saja maka tak ada lagi pembuluh darah yg mengalir hingga ke ujung jari. Jikalau aku jahit & sambungkan, itu cuma utk sementara kemungkinan kurang lebih 2 – 4 hri sesudah itu jari ini bakal membusuk & ingin tak ingin kepada hasilnya mesti dibuang serta, menjadi dikerjakan 2 kali. Seandainya kini kita melakukan cuma perlu 1 kali pembuatan dgn hasil akhir yg lebih baik, aku bakal mengusahakan buat seminimal barangkali membuang jaringannya & kepada penyembuhannya kelak di inginkan lebih langsung lantaran lukanya rapih & tak compang-camping seperti ini”, demikian penjelasan saya terhadap mereka. 


Kira – kira seperempat jam kubutuhkan ketika utk meyakinkan mereka bakal aksi yg dapat kita melaksanakan. Sesudah semuanya oke, saya minta dr. Sandra buat menyiapkan dokumennya termasuk juga surat persetujuan perbuatan medik & pengurusan buat rawat inapnya, sementara saya siapkan peralatannya dibantu oleh suster-suster Lembaga di UGD.

“San, elu ingin menjadi operatornya?” tanyaku sesudah semuanya siap. 
“Ehm… saya menjadi asisten elu aja deh”, jawabnya sesudah terdiam sejenak. 

Entah mengapa ruang UGD ini biarpun Ber-AC masih saja saya merasa panas maka butir-butir keringat yg segede jagung bercucuran ke luar terutama dari dahi & hidung yg mengalir sampai ke leher disaat saya kerja itu. Untung Sandra mengamati faktor ini & sbg asisten dirinya segera tanggap & berulang kali dirinya menyeka keringatku. Huh… saya menyukai sekali kala ia menyeka keringatku, soalnya wajahku & wajahnya demikian dekat maka saya serta sanggup mencium wangi tubuhnya yg demikian menggoda, terlebih rambutnya yg sebahu dirinya gelung ke atas maka kelihatan lehernya yg putih berjenjang & tengkuknya yg ditumbuhi bulu-bulu halus. Memang menggoda iman & angan-angan. 

Setengah jam selanjutnya selesai telah tugasku, tinggal jahit buat menutup luka yg kuserahkan terhadap dr. Sandra. Sesudah itu kulepaskan sarung tangan sedikit terburu-buru, tetap cuci tangan di wastafel yg ada & serta-merta masuk ke kamar jaga UGD buat pipis. Ini yg menciptakan saya tak tahan dari tadi mau pipis. Daripada saya harus lari ke bangsal bedah yg pass jauh atau ke luar UGD di ujung lorong sana serta ada toilet, tambah baik saya memilih di kamar dokter jaga UGD ini, lagi pun rasanya lebih bersih. 

Waktu kubuka pintu toilet (hendak ke luar toilet), “Ooopsss…” terdengar jeritan mungil halus & kulihat dr. Sandra tetap sibuk mengupayakan menutupi badan sektor atasnya bersama kaos yg dipegangnya. 
“Ngapain lu di sini?” tanyanya ketus. 
“Aku habis pipis nih, elu serta kok nggak periksa-periksa lalu konsisten ngapain elu buka pakaian?” tanyaku tidak ingin disalahkan demikian saja. 
“Ya, udah ke luar sana”, suaranya telah lebih lembut seraya bergerak ke balik pintu agar tak nampak dari luar kala kubuka pintu kelak. 

Dikala saya hingga di pintu, kulihat dr. Sandra tertunduk dan… ya ampun…. pundaknya yg putih halus nampak hingga bersama ke pangkal lengannya, “San, pundak elu bagus”, bisikku dekat telinganya & semburat merah bujang langsung menjalar di wajahnya & dirinya tetap tertunduk yg memunculkan keberanianku buat mengecup pundaknya perlahan. Beliau konsisten terdiam & serentak kulanjutkan bersama menjilat sepanjang pundaknya sampai ke pangkal leher dekat tengkuknya. Kupegang lengannya, pernah tersentuh kaos yg dipegangnya utk menutupi sektor depan tubuhnya & terasa agak lembab. Rupanya itu alasannya beliau terhubung kaosnya utk menggantinya bersama yg baru. Berkeringat pula rupanya tadi. 


Perlahan kubalikkan tubuhnya & serta-merta terlihat punggungnya yg putih mulus, halus & kurengkuh tubuhnya & kembali lidahku main-main lincah di pundak & punggungnya sampai ke tengkuknya yg ditumbuhi bulu-bulu halus & kusapu dgn lidahku yg basah. “Aaaccch… ach…” desahnya yg mula-mula & disusul bersama jeritan mungil macet dilontarkannya diwaktu kugigit urat lehernya dgn gemas & tubuhnya sedikit mengejang kaku. Kuraba pangkal lengannya sampai ke siku & dgn sedikit tekanan kuusahakan buat meluruskannya sikunya yg dengan cara automatis menarik kaos yg dipegangnya ikut turun ke bawah & dari belakang pundaknya itu. 

Kulihat dua buah gundukan bukit yg tak terlampaui agung tetapi teramat menantang & terhadap bukit yg sebelah kanan terlihat tonjolannya yg tetap berwarna merah dadu sedangkan yg sebelah kiri tidak kelihatan. Kusedot kembali urat lehernya & dirinya menjerit terhenti, “Aach… ach… ssshhh”, tubuhnya serta kurasakan makin lemas oleh dikarenakan makin berat saya menahannya. 

Bersama masih dalam dekapan, kubimbing dr. Sandra menuju ke ranjang yg ada & perlahan kurebahkan ia, matanya masihlah terpejam dgn guratan nikmat terhias di senyum tipisnya, & dengan cara refleks tangannya bergerak menutupi buah dadanya. Kubaringkan tubuhku sendiri di sampingnya dgn tangan kiri menyangga beban badan, sedangkan tangan kanan mengusap lembut alis matanya tetap turun ke pangkal hidung, mengitari bibir konsisten turun ke bawah dagu & berhenti di ujung liang telinganya. 

Senyum slim tetap menghias wajahnya & berhenti bersama desahan halus disertai terbukanya bibir ranum itu. “Ssshhh… acchh…” Kusentuhkan bibirku sendiri ke bibirnya & langsung kami saling berpagutan penuh nafsu. Kuteroboskan lidahku memasuki mulut & mencari lidahnya utk saling bergesekan selanjutnya kugesekan lidahku ke langit-langit mulutnya, sementara tangan kananku kembali menelusuri lekuk wajahnya, leher & konsisten turun menyusuri lembah bukit, kudorong tangan kanannya ke bawah & kukitari putingnya yg menonjol itu. Lima hingga tujuh kali putaran & putingnya makin mengeras. Kulepaskan ciumanku & kualihkan ke dagunya. Sandra memberikan leher bidang depannya & kusapu lehernya bersama lidahku tetap turun & menyusuri tulang dadanya perlahan kutarik tangannya yg kiri yg masihlah menutupi bukitnya. Terlihat sekarang ini dgn terang ke-2 puting susunya masihlah berwarna merah dadu tetapi yg kiri tetap tenggelam dalam gundukan bukit. Feeling-ku, belum sempat ada yg menyentuh itu pada awal mulanya. 

Kujilat sesuai di lokasi puting kirinya yg masihlah terpendam malu itu kepada jilatan yg kelima atau keenam, saya lupa. Puting itu sejak mulai menampakkan ia bersama malu-malu & cepat kutangkap bersama lidah & kutekankan di gigi bidang atas, “Ach… ach… ach…” nada desisnya makin jadi & kali ini tangannya pula mulai sejak aktif memberikan perlawanan dgn mengusap rambut & punggungku. Sambil konsisten memainkan ke-2 buah payudaranya tanganku mulai sejak menjelajah ruang yg baru turun ke bawah lewat trayek tengah tetap & tetap menembus batas atas celana panjangnya sedikit tekanan & kembali meluncur ke bawah menerobos karet celana dalamnya perlahan turun sedikit & cepat tersentuh bulu-bulu yg sedikit lebih kasar. “Eeehhhm… ech…” tak diteruskan namun bergerak kembali naik menyusuri lipatan celana panjangnya & hingga kepada ruang pinggulnya & langsung kutekan dgn agak keras & mantap, “Ach…” pekiknya mungil pendek seraya bergerak sedikit liar & mengangkat pantat & pinggulnya.


Serta-merta kutekan kembali lagi pinggul ini namun kali ini kulakukan keduanya kanan & kiri &, “Fran… ugh…” teriaknya terhambat. Saya kaget pula, itu kan artinya Sandra sadar siapa yg mencumbunya & itu serta berarti ia memang lah memberikan peluang itu untukku. Matanya tetap terpejam hanya-hanya kadang terbuka. Kutarik restleting celananya & kutarik celana itu turun. Gampang, oleh dikarenakan Sandra benar-benar menginginkannya pula, maka kegiatan yg dilakukannya amat mempermudah. Tungkainya amat proporsional, kencang, putih mulus, pasti beliau merawatnya dgn baik serta oleh dikarenakan beliau pun kan berasal dari keluarga tajir, apabila tak salah bapaknya salah satu petinggi tinggi di bea cukai. Kuraba paha sektor dalamnya turun ke bawah betis, konsisten turun sampai punggung kaki & dengan cara tidak terduga Sandra meronta & terduduk, bersama nafas memburu & tersengal-sengal, “Fran…” desisnya tertelan oleh nafasnya yg tetap memburu. 

Selanjutnya beliau mulai sejak mengakses kancing bajuku sedikit tergesa & kubantunya dulu beliau mulai sejak mengecup dadaku yg sektor seraya tangannya bergerak aktif menarik retsleting celanaku & menariknya lepas. Serta-merta saja saya berdiri & melepaskan semua bajuku & kuterjang Sandra maka beliau rebah kembali & kujilat mulai sejak dari perutnya. Sementara tangannya ikut mengimbangi bersama mengusap rambutku, saat saya hingga di selangkangannya kulihat beliau memanfaatkan celana berwarna dadu & tampak belahan tengahnya yg sedikit cekung sementara pinggirnya menonjol ke luar serupa pematang sawah & ada sedikit noda basah di tengahnya tak terlampaui luas, ada sedikit bulu hitam yg mengintip ke luar dari balik celananya. Kurapatkan tungkainya dulu kutarik celana dalamnya & kembali kurentangkan kakinya seraya saya pun melepas celanaku. Sekarang kami sama berbugil, kemaluanku tegang sekali & pass agung buat ukuranku. Sementara Sandra telah mengangkang lebar namun labia mayoranya tetap tertutup rapat. Kucoba membukanya dgn jari-jari tangan kiriku & nampak suatu lubang mungil se besar kancing di tengahnya diliputi oleh semacam daging yg berwarna pucat begitu serta dindingnya kelihatan berwarna pucat meskipun lebih merah di bandingkan bersama sektor tengahnya. Gila, rupanya masihlah gadis. 

Tidak lama kulihat serta-merta ke luar cairan bening yg mengalir dari lubang itu oleh dikarenakan telah ga ada lagi rintangan mekanik yg menghalanginya utk ke luar & banjir disertai baunya yg khas semakin terasa tajam. Baru ketika itu kujulurkan lidahku buat mengusapnya perlahan bersama sedikit tekanan. “Eehhh… ach… ach… ehhh”, desahnya berkepanjangan. Sementara lidahku cobalah utk membersihkannya tetapi banjir itu datang tidak tertahankan. Saya kembali naik & menindih badan Sandra, sementara kemaluanku menempel di selangkangannya & saya telah tak tahan lagi seterusnya saya mulai sejak meremas payudara kanannya yg kenyal itu dgn kapabilitas lemah yg semakin lama semakin kuat. 

“Fran… ambilah…” bisiknya terhambat seraya menggoyangkan kepalanya ke kanan & ke kiri sementara kakinya diangkat tinggi-tinggi. Bersama tangan kanan kuarahkan torpedoku buat menembak dgn serasi. Satu kali tidak sukses rasanya melejit ke atas oleh dikarenakan licinnya cairan yg membanjir itu, dua kali tetap tidak berhasil serta tapi yg ke-3 rasanya saya sukses kala tangan Sandra tiba-tiba memegang erat ke-2 pergelangan tanganku bersama erat & desisnya seperti menahan sakit bersama bibir bawah yg dia gigit sendiri. Sementara batang kejantananku rasanya sejak mulai memasuki liang yg sempit & terhubung sesuatu lembaran, sesaat setelah itu seluruhnya batang kemaluanku telah tertanam dalam liang surganya & kaki Sandra serta telah melingkari pinggangku bersama erat & menahanku utk bergerak. “Tunggu”, pintanya saat saya mau bergerak. 


Sekian Banyak kala selanjutnya saya mulai sejak bergerak mengocoknya perlahan & kaki Sandra juga telah turun, mulanya biasa saja & respon yg diberikan pun tetap minimal, sesaat selanjutnya nafasnya kembali mulai sejak memburu & butir-butir keringat mulai sejak kelihatan di dadanya, rambutnya telah kusut basah semakin mempesona & kegiatan mengocokku sejak mulai kutingkatkan frekuensinya & Sandra serta mulai sejak akan mengimbanginya. 

Semakin lama aktivitas kami makin seirama. Tangannya yg terhadap mulanya diletakkan di dadaku waktu ini bergerak naik & hasilnya mengusap kepala & punggungku. “Yach… ach… eeehmm”, desisnya berirama & sesaat seterusnya saya semakin merasakan liang senggamanya semakin sempit & terasa semakin menjempit kuat, kegiatan tubuhnya semakin liar. Tangannya telah meremas bantal & menarik kain sprei, sementara keringatku sejak mulai menetes membasahi tubuhnya tetapi yg kunikmati disaat ini yaitu kenikmatan yg semakin meningkat & luar biasa, lain dari yg kurasakan selagi ini lewat masturbasi. Semakin serentak, segera, langsung & hasilnya kaki Sandra kembali mengunci punggungku & menariknya lebih ke dalam bersamaan dgn pompaanku yg terakhir & kami terdiam, sedetik setelah itu.. “Eeeggghhh…” jeritannya mandek bersamaan dgn mengalirnya cairan nikmat itu menjalar di sepanjang kemaluanku &, “Crooot… crooot”, memberikannya kenikmatan yg fantastis. Sebaliknya bagi Sandra terasa ada semprotan kuat di dalam sana & memberikan rasa hangat yg mengalir & berputar serasa tetap menembus ke dalam tidak ada berujung. Selesai telah pertempuran tetapi kekakuan tubuhnya tetap kurasakan, begitu pun tubuhku tetap kaku. 

Sesaat selanjutnya kuraih bantal yg tersisa, kulipat menjadi dua & kuletakkan kepalaku di situ sesudah diawal mulanya bergeser sedikit utk memberinya nafas supaya beban tubuhku tak menindih paru-parunya tetapi masihlah tubuhku menindih tubuhnya. Kulihat senyum puasnya masihlah mengembang di bibir mungilnya & tubuhnya kelihatan mengkilap licin dikarenakan keringat kami berdua. 

“Fran… thank you”, sesaat setelah itu, “Ehmmm… Fran saya boleh bertanya?” bisiknya perlahan. 
“Ya”, sahutku sambil tersenyum & menyeka keringat yg menempel di ujung hidungnya. 
“Aku… perawan keberapa yg elu tidurin?” tanyanya sesudah pernah terdiam sejenak. “Yang pertama”, kataku meyakinkannya, tapi Sandra mengerenyitkan alisnya. “Sungguh?” tanyanya buat meyakinkan. 
“Betul… keperawanan elu saya ambil tetapi perjakaku serta elu yg ambil”, bisikku di telinganya. Sandra tersenyum manis. 
“San, thank you juga”, itu kata-kata terakhirku sebelum dia tidur terlelap kelelahan bersama senyum puas masihlah tersungging di bibir mungilnya & batang kemaluanku pula tetap belum ke luar tetapi saya pula ikut terlelap.


BUNGAQQ.COM BandarQ | ADUQ | DOMINOQQ ONLINE TERPERCAYA Indonesia. Kami juga menyediakan costumer servis yang siap melayani anda selama 24 jam penuh. 

Minimal Deposit Rp 20.000
Minimal WD Rp 50.0000
Proses depo wd akan kami proses dalam waktu kurang dari 2 menit, kecuali bank yang bersangkutan sedang gangguan.

Kami juga menyediakan bonus menarik yang lain :
- BONUS CASHBACK 0.5% yang dibagikan setiap hari selasa dengan minimal Turnover 1jt
- BONUS REFERAL 20%

Kami menyediakan 6 games yang bisa dimainkan dalam 1 id
-Poker
-AduQ
-DominoQQ
-Capsa Susun
-BandarQ
-Bandar Poker

Kami juga menyediakan hadiah jackpot dengan total hadiah ratusan juta rupiah.

Kami Menyediakan 5 bank yang siap melayani anda yang diantaranya : 
BCA, MANDIRI, BNI, BRI, dan DANAMON 

Transaksi dapat dilakukan selama bank online.
Untuk info lebih lanjut silakan hubungi kami di 
BBM : 7B16CAB4
YM : qqbungaqq@yahoo.com

Untuk Pendaftaran Langsung saja klik : http://goo.gl/t7AejW

0 comments:

Post a Comment

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest
image image image image SensusQQ SITUS BANDARQ ADUQ DOMINOQQ ONLINE TERPERCAYA 2017

Popular Posts

Powered by Blogger.

Copyright © BUNGAQQ | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com